Cara Haji di zaman Jahiliyah - Zaman jahiliyah merupakan kehidupan bangsa arab sebelum diutusnya Rasulullah Muhammad SAW. Masyarakat Zaman jahiliyah bukan masyarakat bodoh dalam pengertian tiadanya pengetahuan dan peradaban, melainkan disebut bodoh pada nilai-nilai yang jauh dari kebenaran (fitrah, Islam).
Misalnya, mereka pesimis dengan bulan safar, mereka kemudian merubah aturan haji sehingga tidak mengijinkan orang luar Makkah untuk haji kecuali dengan memakai pakaian dari mereka. Jika tidak mendapatkan, maka melakukan thawaf dengan telanjang.
Dengan begini, pelaksanaan ibadah haji masyarakat Arab pra-Islam tidak sesuai dengan ajaran islam. Moral dan akhlaknya bisa dikatakan bobrok, karena mereka masih mengikuti tradisi zaman nabi Ibrahim, namun diselewengkan.
Ketika Zaman jahiliyah, jamaah haji terbagi atas dua kelompok, Kelompok pedagang dan non-pedagang. Jamaah haji pedagang sudah harus bertolak meninggalkan negerinya pada saat hilal bulan sebelum datangnya bulan haji. Sebagai contoh, mereka harus sudah meninggalkan negerinya pada permulaan bulan Dzulqa’dah jika haji itu terjadi pada bulan Dzulhijjah. Hal itu dimaksudkan agar jamaah haji bisa ikut berpartisipasi dalam pasar khusus di Ukadz selama 20 hari.
Dari Pasar Ukadz ini jamaah haji berangkat menuju Majnah untuk berdagang selama sepuluh hari. Setelah tampak hilal Dzulhijjah, Pasar Majnah ditutup dan rombongan haji pedagang ini berangkat ke Dzul Majaz untuk melakukan transaksi perdagangan selama delapan hari. Pada hari tarwiyah mereka bertolak ke Arafah untuk melakukan wukuf.
Namun bagi jamaah non-pedagang. Pada hari tarwiyah jamaah non-pedagang ini langsung menuju ke Arafah guna melaksanakan wukuf. Sebagian diantara mereka melaksanakan wukuf di Arafah sementara sebagian yang lain melakukan wukuf di Namirah, perbatasan Tanah Haram.
Setelah bermalam di tempat masing-masing, menjelang terbenamnya matahari mereka bertolak ke Muzdalifah. Keesokan harinya, sesudah matahari terbit, jamaah haji non-pedagang ini bertolak ke Mina. Dari Mina mereka kemudian pergi ke Makkah guna melaksanakan thawaf.
Beberapa suku menetapkan tradisi bagi anggota yang baru pertama kali melaksanakan haji. Bagi anggota baru, mereka diharuskan melakukan thawaf dalam keadaan tanpa busana. baik laki-laki maupun perempuan. Mereka berargumentasi bahwa pakaian yang dikenakannya adalah kotor/tidak suci. Sehingga tidak pantas digunakan untuk ibadah. Sementara jamaah yang dihormati oleh masyarakatnya tetap mengenakan pakaian ketika melaksanakan thawaf. Akan tetapi setelah itu pakaian tersebut tidak boleh digunakan lagi.
Dari rekonstruksi pelaksanaan haji pada masa jahiliyah terdapat unsur-unsur manasik Nabi Ibrahim. Hal ini menandakan bahwa pada waktu itu suku-suku Arab masih mengikuti millah Ibrahim. Meskipun ajaran Nabi Ibrahim yang murni itu disusupi oleh tradisi-tradisi heterdoks.
Begitulah sedikit gambaran kecil mengenai Cara Haji di Zaman jahiliyah. semoga sedikit artikel ini bermanfaat.
- Konsultan :
- ZAENAL ABIDIN
- Telp :
- # /
- Mobile:
- 0822-1615-2255
- E-mail :
- zaenal.us@gmail.com
Baca juga Info Haji Plus dan Umrah Lainnya:

0 comments:
Posting Komentar
Untuk Informasi, Konsultasi, Pendaftaran Haji Khusus dan Umrah Reguler Silahkan hubungi kami