ini dia Oleh-Oleh Haji Yang Terlupakan

Share on :

oleh-oleh hajioleh-oleh haji |Sudah saatnya, jamah haji pulang tak sekadar membawa oleh-oleh haji berupa kurma, sajadah, tasbih ataupun cerek. Ada oleh-oleh haji yang selalu terlupakan untuk  dibawa pulang. Yaitu oleh-oleh haji yang berupa pesan akan pentingnya persatuan umat. Oleh-oleh berupa cerita tentang indahnya menjalani pengorbanan dijalan Allah SWT.
Labbaika Allahumma labbaik! Ku penuhi panggilan-Mu,duhai Allah! Itulah sepenggal kalimat talbiyah yang kini sering diperdengarkan. Setahun sekali kalimat itu menggema. Digemuruhkan oleh jutaan orang dari seluruh pelosok dunia. Para tamu Allah yang berniat luhur. Berhaji, untuk menyempurnakan rukun islamannya.
Fantastik. Ibadah haji memang memiliki daya tarik yang luar biasa. Mampu menghimpun jutaan Umat . Tanpa ada undangan. Tanpa ada bener promosi. Tak ada satu pun event di dunia ini, yang seberhasil ibadah haji dalam mengumpulakan massa. Rasa-rasanya, piala dunia pun kalah meriahnya dengan ibadah haji. Lautan manusia, berpakaian ihram putih-putih melebur tanpa ada lagi sekat diantara mereka.
Mereka sudah tidak memperdulikan perbedaan warna kulit. Apalagi batas-batas negara. Dalam sanubarinya telah ada niat luhur. Bertandang ke rumah Allah untuk meraih haji mabrur. Siapa yang tak gentar hatinya, melihat jutaan orang berkumpul. Satu dalam khusyu, tunaikan ibadah.
Andai saja persatuan itu abadi, maka umat Islam segara akan berhasil menunjukkan keaslian jati dirinya. Tampil sebagai khairuh ummah, umat yang terbaik, pemimpin peradaban dunia. Sayang, semua hanya kebersatuan semu. Bertahan empat puluh hari saja. Hanya selama ibadah haji ditunaikan. Saat kembali menapaki tanah air masing-masing, semuanya kembali tercerai berai.
Dari sinilah titik mula kita melakukan evaluasi. Sudah berjuta-juta orang berhaji. Mulai dari rakyat berekonomi pas-pasan, hingga pejabat tinggi. Namun kondisi negeri tak kunjung membaik. Hal ini terjadi akibat penurunan kualitas ibadah haji. Dulu pada masa Rasulullah saw, momentum haji dijadikan sebagai ranah penggemblengan ruhiyah dan kesadaran politik.
Apa buktinya? Mari kita dengarkan khutbah Rasulullah saw saat haji wada'. Di sana Beliau menyinggung tentang akidah. Tak lupa mengingatkan tentang kewajiban salat, zakat dan puasa Ramadan. Membangun kekokohan rumah tangga.
Juga tentang ketahanan ekonomi yaitu keharusan menghapuskan riba apapun rupanya. Dan yang tak terlupa, kewajiban menjaga persatuan dan kehormatan kaum muslimin. Rasulullah saw betul-betul menjadikan haji sebagai muktamar akbar umat Islam sedunia.
Pengaruh politis ibadah haji ini masih terasa hingga tahun 1498. Penjajah Portugis merasa teranjam akan kebangkitan kesadaran politik umat Islam. Sehingga merasa perlu untuk menghalang-halangi pelaksanaan ibadah haji. Maka kekhilafahan Utsmani yang berpusat di Turki langsung mengambil langkah taktis.
Mengamankan rute haji di penjuru barat Sumatera dengan menempatkan angkatan lautnya di Samudera Hindia. Bahkan hingga tahun 1908, haji masih dianggap ancaman oleh penjajah Belanda. Mengutip pernyataan H Aqib Suminto dalam Politik Islam Hindia Belanda menyatakan, Belanda pernah menegaskan bahwa melarang umat Islam berhaji akan lebih baik daripada harus terpaksa menembak mati mereka.

Menjadi Motivator

Bagaimana dengan kualitas haji sekarang? Pesan politisnya telah luntur. Yang tertinggal makna ibadah ritual belaka. Jamak orang yang menunaikan haji hanya sebagai penggugur kewajiban. Atau hanya menjadikannya sebagai wisata religi dan ajang berburu barang antik. Dan yang terparah adalah jika hanya menjadikan haji sebagai peningkat nilai prestise di tengah masyarakat. Telah tercitra dan membudaya, orang yang bergelar haji atau hajjah identik dengan orang alim dan shaleh. Sehingga strata sosialnya pun meningkat. Tak sedikit orang yang berniat seperti itu. Menjadikan haji semakin tidak bermakna dan tidak berpengaruh.
Maka ada misi besar yang teramanahkan kepada jamah haji sepulangnya ke tanah air. Yaitu melestarikan kesejukan persatuan yang dirasakannya selama 40 hari menunaikan haji. Mereka harus mampu menjadi motivator. Pelecut semangat umat agar segera meninggalkan persatuan rapuh. Persatuan yang menjadikan egoisme teritorial negara sebagai dasar ikatannya. Kemudian menggantinya dengan persatuan hakiki. Persatuan yang dibangun atas landasan iman. Itulah ukhuwah Islamiyah.
Untuk mewujudkan impian persatuan umat itu, tidaklah serta merta. Juga tak semudah yang terpikirkan. Diperlukan ekstra pengorbanan di dalamnya. Nah andai saja makna haji mampu tercerap menyeluruh, maka pengorbanan bukanlah sesuatu yang sulit. Apalagi jika kembali melakukan refleksi terhadap kerelaan Nabi Ibrahim mengorbankan puteranya, Ismail.
Sedari tanah air, jiwa pengorbanan sudah mulai tertempa. Haji adalah ibadah yang tidak hanya menuntut pengorbanan fisik, tetapi juga pengorbanan harta, yang jumlahnya tidaklah sedikit.
Saat pengorbanan telah terpatri, maka ada satu lagi nilai luhur yang coba ditempa dalam ibadah haji. Dialah ketaatan. Teringat tentang pesan penuh ketaatan yang diucapkan Umar bin Khathab, sesaat sebelum mencium hajar aswad.
Begini kata Beliau, Sungguh, aku tahu, engkau hanya sebongkah batu hitam, yang tidak bisa mendatangkan manfaat atau madarat. Andai saja aku tidak melihat Rasulullah menciummu, pasti aku tidak akan sudi menciummu.
Itulah sikap Umar bin Khathab. Kemudian diteruskan oleh jamah haji. Mereka melaksanakan apa saja, selama itu adalah titah Ilahi. Mereka tak pernah bertanya mengapa harus lari-lari kecil (sa'i), melontar jumrah, mengelilingi kakbah. Semua dilakukan dengan penuh semangat sami' na wa athana, saya dengar dan saya taat.

Persatuan Umat

Boleh jadi pernah terlintas pertanyaan tentang semua itu. Akan tetapi bagi mereka seruan Allah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw sudah cukup menghilangkan keraguannya. Yang ada hanyalah sikap ketaatan. Sayangnya ketaatan ini tidak dibawa pulang ke tanah air. Dan tidak merembes hingga aspek yang lebih luas. Ketaatan itu hanya ada dalam ritual haji saja. Namun jika berbicara tentang pemerintahan, ekonomi, sosial budaya, ketaatan itu sirna tanpa bekas. Ambil contoh misalnya, saat menyadari bahwa aturan hukum dan pemerintahan di negeri ini tidak bersesuaian dengan Islam, ada semangat yang bergelora untuk segera meninggalkannya. Kemudian menggantinya dengan aturan Islam. Andai saja sikap taat itu mampu terpelihara, maka setiap tahun, khususnya di Indonesia, ada ratusan ribu para pembaharu. Jumlah yang cukup untuk mengeluarkan bangsa bahkan dunia, dari lembah keterpurukan.
Sudah saatnya, jamah haji pulang tak sekadar membawa oleh-oleh serupa kurma, sajadah, tasbih ataupun cerek. Ada oleh-oleh yang selalu terlupa dibawa pulang. Yaitu oleh-oleh berupa pesan akan pentingnya persatuan umat. Oleh-oleh berupa cerita tentang indahnya menjalani pengorbanan dijalan Allah. Juga oleh-oleh beruap kisah tentang ketaatan penuh hanya layak didaulatkan kepada Allah. Taat dalam segala aspek kehidupan. Termasuk taat pada perintah-Nya, mewujudkan persatuan dan persaudaraan.
Semua itu tentu tidak akan terwujud, jika umat masih tersekat-sekat oleh batas teritorial. Yang pada hakekatnya hanyalah batas khayalan yang dibuat untuk menyekat-nyekat kaum Muslimin. Sulit membayangkan umat mampu bersatu jika tidak ada simpul yang mengikatnya. Maka disinilah kebutuhan umat Islam pada sebuah instrument pengikat. Apa itu? Khilafah jawabnya. Khilafah adalah kepemimpinan umum untuk kaum muslimin seantero dunia, untuk menegakkan hukum-hukum Islam dan mengemban dakwah ke seluruh penjuru dunia.
Persatuan umat, itulah sebenarnya oleh-oleh haji yang paling dibutuhkan. Sayang sekali, oleh-oleh haji itu sering terlupakan untuk dibawa.

Sumber Artikel :  (http://makassar.tribunnews.com/2011/10/20/oleh-oleh-haji-yang-terlupakan)
Konsultan :
ZAENAL ABIDIN
Telp :
# /
Mobile:
0822-1615-2255
E-mail :
zaenal.us@gmail.com

Baca juga Info Haji Plus dan Umrah Lainnya:

Berlangganan Info Haji Umrah
Follow us on:
facebook twitter gplus pinterest rss
.0